pembuat template blogger khas indonesia, banner anti korupsi dan tutorial blogZoom by tHomBloG

Wednesday, August 21, 2013

Mayor Hamid Roesdi


Berbagi Informasi Kabupaten Malang

eliau lahir pada Senin pon 1911 di Desa Sumbermanjing Kulon, Pagak, Kabupaten Malang. Pada masa kolonial Belanda, sosok Hamid Roesdi sangat aktif di biHeiho, Seinendan, Keibodan dan Djibakutai. Hamid Roesdi pun masuk dalam PETA pada 1943 yang dibentuk atas usul Gatot Mangkupraja. Dia ditugaskan di Malang dengan pangkat Sudancho (Letnan I).
dang kepanduan dan tergabung dalam ‘Pandoe Ansor’, karena dia juga seorang guru agama sekaligus staf organisasi Nahdlatul Oelama. Beberapa tahun kemudian bekerja di Malang sebagai sopir di Penjara Besar Malang (sekarang LP Lowokwaru). Pada 8 Maret 1942 Jepang memasuki Kota Malang dan mulai pembentukan pasukan
Selain berlatih militer, dia juga sibuk mempersiapkan laskar rakyat untuk menentang Jepang. Pada malam hari, 3 September 1945 diumumkan daerah Karesidenan Surabaya masuk wilayah Republik Indonesia, Hamid Roesdi mulai melucuti tentara tentara Jepang di Malang.
Tahun 1946 menjabat sebagai perwira staf Divisi VII Suropati dengan pangkat mayor dan bertempat tinggal sementara di Jalan Semeru (sekarang Kantor Bank Permata).
Dianggap berhasil menangani pelucutan senjata Jepang, kemudian beliau diangkat sebagai komandan Batalyon I Resimen Infantri 38 Jawa Barat dan menyelesaikan pertempuran dengan sukses. Sekembalinya dari Jawa Barat dinaikkan pangkatnya menjadi Komandan Pertahanan daerah Malang di Pandaan-Pasuruan.
Pada agresi militer Belanda I 1947 Hamid Roesdi dengan gigih memimpin pasukan mempertahankan Kota Malang dari tentara Belanda. Sebelum Belanda memasuki Pandaan, Hamid Roesdi berkeliling kota menaiki jeep untuk memerintahkan seluruh rakyat membumihanguskan bangunan-bangunan penting dalam kota. Ketika Kota Malang tidak dapat dipertahankan lagi, beliau membuat pertahanan di Bululawang dan menyusun strategi merebut Malang kembali.
Dalam susunan staf TKR Divisi VII Hamid Roesdi dipercaya sebagai staf VI. Pada 1948 reorganisasi dan rasionalisasi (Rera) ketentaraan menjadi TNI, semua laskar-laskar perjuangan dimasukkan dalam TNI. Sesudah Rera pasukan-pasukan yang ada dihimpun menjadi Brigade IV. Batalyon Mayor Hamid Roesdi ditempatkan di Turen dengan rencana daerah operasi Malang tengah dan Malang timur. Hamid Roesdi diangkat sebagai komandan Resimen 38 (sekarang Yonif 512) pada 28 Mei 1948. Menjelang agresi militer Belanda II 1948, Hamid Roesdi membawahi Batalyon I (Malang) di bawah Mayor Sumarto, Batalyon II (Batu) di bawah Mayor Abdul Manan, Batalyon III (Pasuruan) di bawah Mayor Syamsul Islam dan Batalyon IV (Malang) di bawah M. Muchlas Rowi.
Setelah agresi militer Belanda II, maka pada akhir Desember 1948 Batalyon I Brigade IV TNI di bawah Mayor Hamid Roesdi menempati sekitar Malang Selatan. Sebelumnya Mayor Hamid Roesdi adalah Komandan Batalyon 30 menjadi Batalyon I di antara empat batalyon. Kemudian TNI menerapkan perang gerilya dengan menerapkan sistem wehrkreise. Sebagai komandan Mobil Brigade (MB) I Mayor Hamid Roesdi membawahi daerah operasi meliputi sebelah utara garis status quo sampai Pasuruan dengan memimpin distrik I Kapten Wachman, Distrik II Mayor Abdul Manan dan Distrik III Mayor Syamsul Islam. Setelah ditunjuk menjadi Komandan MG (Mobil Gerilya) I, Mayor Hamid Roesdi mendapat tambahan tugas daerah operasi SWK II (Malang barat di bawah Abdul Manan) dan SWK III (Malang Selatan di bawah Muchlas Rowi). Muncullah rencana untuk mengadakan serangan umum ke kota Malang.
Sebenarnya Mayor Hamid ROesdi berencana untuk pindah ke tempat MG I yang baru di Nongkojajar. Dalam pelaksanaanya itu, ia meyempatkan diri untuk menjenguk keluarganya yang berada di desa Sekarputih Wonokoyo. Kesempatan menengok keluarga ini dilakukan dengan melalui desa Tlogowaru pada malam hari. Rupanya pihak lawan mendapat informasi bahwa Mayor Hamid Roesdi itu bergerak ke daerah Malang Timur. Karena itu mereka mengadakan penyergapan. Tengah malam, pada 8 Maret 1949 kondisi perang sangat genting. Hamid Roesdi datang dan berpamitan pada istrinya, Siti Fatimah. Hamid Roesdi dengan 4 orang lainnya ditangkap tentara Belanda. Setibanya di tepi sungai dekat desa Wonokoyo mereka ditembak mati. Itulah pertemuan terakhir dengan istrinya dan tidak pernah kembali lagi selama-lamanya. Tanggal 8 Maret 1949 siang hari, kelima pahlawan tersebut dimakamkan di Desa Wonokoyo. [ant]

Sumber:
Biografi pahlawan Hamid Roesdi, Bintaldam V Brawijaya 1989
Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan II
TKR Divisi VII Untung Suropati Malang-Besuki 1945-1948

Pesan Tersirat :
Sumber : http://ngalam.web id
Check

Anda dapat mengirimkan foto/ Artikel tentang daerah anda kirmkan melalui email ke malangkab@mail.com

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih komentar yang diberikan

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More