BREAKING NEWS
Loading...

Berita

Kabupaten

Malang Raya

Info

Nasional

Artikel

Internasional

Motivasi

Retno Marsudi (1)



mALANg rAYa

Nasional - Retno Lestari Priansari Marsudi arau lebih dikenal Retno Marsudi, seorang diplomat dan perempuan pertama yang berhasil menduduki posisi Menteri Luar Negeri RI. Ia menjabat Menlu selama dua periode pemerintahan presiden ke-7 Joko Widodo pada tahun 2014 - 2024

Perjalanan Karier

Mentri Luar Negeri     2014 - 2024
Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda     2012 - 2014
Direktur Jendral Amerika dan Eropa    2008 - 2012
Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia dan Republik Islandia    2005 2008
Direktur Eropa Barat     2003 - 2005
Derektur Kerjasama Intra dan Antar Regional Amerika dan Eropa     2001 - 2003
Sekertaris Satu Bidang Ekonomi KBRI Den Haag, Belanda 1997 - 2001

Jabatan Sekarang

Utusan Khusus Sekjen PBB, Ini sekaligus pertamakalinya orang Indonesia ditunjuk sebagai utusan khusus Sekertaris Jendral Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)

Ia ditunjuk Sekjen PBB Antonio Guteres untuk isu airm, dan mulai bertugas 1 Nopember 2024. Tugasnya menyerukan supaya air menjadi perhatian utama dalam politik global dan memastikan air bisa bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat/

PENTING dan PERLU (kabmalang.com)
>>
Klik 👇
Investasi Crypto

,
Sumber : NARASI

Tak Semua Arabisme itu Positif


mALANg rAYa 

Buya Ahmad Syafii Maarif. dok.TEMPO/Suryo Wibowo

TEMPO.COJakarta - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah  Ahmad Syafii Maarif mengatakan tidak semua Arabisme positif, tetapi juga tidak semua negatif.
"Arabisme ada yang positif. Yang negatif ya kelompok-kelompok garis keras, ada ISIS, Bokoharam, dan sebagainya," kata Buya Syafii dalam peluncuran dan bedah buku "Integritas di Tengah Kabut Idealisme, Kepemimpinan & Pembelajaran Hidup Suhardi Alius" di Jakarta, Sabtu 28 Oktober 2017.
Menurut Buya Syafii, sebagaimana dikutip dalam siaran pers, Minggu 29 Oktober 2017, negara Barat tidak paham perbedaan antara Arabisme dan Islam sehingga semua dianggap sama. Namun, kata Syafii, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius memahami masalah itu.

"Ini kelebihan Suhardi Alius sehingga dia menjadi konsultan di muka bumi ini mengajarkan kepada negara Barat bagaimana cara mengatasi terorisme. Tentunya ini luar biasa," ujar Syafii.
Buku itu sendiri ditulis oleh Dedi Mahardi tanpa sepengetahuan Suhardi. Dedi mengaku menulis buku itu setelah mendapat masukan dari beberapa tokoh agar menulis tentang orang-orang yang bisa menjadi teladan.
"Ini agar anak bangsa dan generasi ke depan itu menyadari bahwa bangsa ini harus dibangun dengan kejujuran, kebaikan dan dengan integritas, bukan lagi dengan kepalsuan. Setelah melalui berbagai penilaian dari berbagai tokoh, akhirnya muncul nama Pak Suhardi Alius di ranking pertama," katanya.
Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Moehmahadi Soerja Djanegara dalam sambutannya mengatakan korupsi yang masih menjadi persoalan besar bangsa ini akar permasalahannya adalah makin lunturnya integritas, kejujuran, dan rasa cinta kepada bangsa, negara, dan tanah air.
"Namun demikian, kita harus yakin masih banyak anak bangsa yang punya integritas yang tinggi, salah satunya Suhardi Alius," ujar Moehmahadi.
Suhardi Alius sendiri mengaku kaget pada awalnya karena tidak pernah berpikir ada orang yang menulis tentang dirinya. "Yang menginisiasi buku ini ternyata adalah Buya Syafii Maarif dan Pak Nazaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal, Red)," katanya.
Suhardi menegaskan bahwa integritas sangat diperlukan untuk membangun negara ini. Menurutnya, negara ini dibangun dengan idealisme para pendiri bangsa, dan idealisme itu hendaknya tetap dijaga oleh generasi penerus dalam mengisi kemerdekaan.
"Sebenarnya kuncinya mudah, cuma kemauan saja Saya pikir mulai dari diri sendiri, jangan berteriak saja, tapi tidak berbuat, saya pikir bisa kita laksanakan, minimal bisa menginspirasi lingkungannya. Itu yang saya ingin harapkan," katanya.
Hadir dalam acara bedah buku itu selain Buya Syafii Maarif juga mantan Kapolri Jenderal Pol (Purn) Surojo Bimantoro dan Jenderal Pol (Purn) Da'i Bachtiar, mantan Jaksa Agung Basrief Arief, Wakil Menteri ESDM Archandra Tahar, mantan Kepala BNPT Irjen Pol (Purn) Ansyaad Mbai, anggota kelompok ahli BNPT Prof Azyumardi Azra dan Hamdi Muluk, Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi (PUKAT) UGM Zainal Arifin Mochtar, mantan narapidana kasus terorisme Ali Fauzy Manzi dan Khoirul Ghazali.
ANTARA
PENTING dan PERLU (kabmalang.com)
Sumber :

Mayor Hamid Roesdi


Berbagi Informasi Kabupaten Malang

eliau lahir pada Senin pon 1911 di Desa Sumbermanjing Kulon, Pagak, Kabupaten Malang. Pada masa kolonial Belanda, sosok Hamid Roesdi sangat aktif di biHeiho, Seinendan, Keibodan dan Djibakutai. Hamid Roesdi pun masuk dalam PETA pada 1943 yang dibentuk atas usul Gatot Mangkupraja. Dia ditugaskan di Malang dengan pangkat Sudancho (Letnan I).

bidang kepanduan dan tergabung dalam ‘Pandoe Ansor’, karena dia juga seorang guru agama sekaligus staf organisasi Nahdlatul Oelama. Beberapa tahun kemudian bekerja di Malang sebagai sopir di Penjara Besar Malang (sekarang LP Lowokwaru). Pada 8 Maret 1942 Jepang memasuki Kota
Malang dan mulai pembentukan pasukan
 
Selain berlatih militer, dia juga sibuk mempersiapkan laskar rakyat untuk menentang Jepang. Pada malam hari, 3 September 1945 diumumkan daerah Karesidenan Surabaya masuk wilayah Republik Indonesia, Hamid Roesdi mulai melucuti tentara tentara Jepang di Malang.
Tahun 1946 menjabat sebagai perwira staf Divisi VII Suropati dengan pangkat mayor dan bertempat tinggal sementara di Jalan Semeru (sekarang Kantor Bank Permata).
Dianggap berhasil menangani pelucutan senjata Jepang, kemudian beliau diangkat sebagai komandan Batalyon I Resimen Infantri 38 Jawa Barat dan menyelesaikan pertempuran dengan sukses. Sekembalinya dari Jawa Barat dinaikkan pangkatnya menjadi Komandan Pertahanan daerah Malang di Pandaan-Pasuruan.

Pada agresi militer Belanda I 1947 Hamid Roesdi dengan gigih memimpin pasukan mempertahankan Kota Malang dari tentara Belanda. Sebelum Belanda memasuki Pandaan, Hamid Roesdi berkeliling kota menaiki jeep untuk memerintahkan seluruh rakyat membumihanguskan bangunan-bangunan penting dalam kota. Ketika Kota Malang tidak dapat dipertahankan lagi, beliau membuat pertahanan di Bululawang dan menyusun strategi merebut Malang kembali.
Dalam susunan staf TKR Divisi VII Hamid Roesdi dipercaya sebagai staf VI. Pada 1948 reorganisasi dan rasionalisasi (Rera) ketentaraan menjadi TNI, semua laskar-laskar perjuangan dimasukkan dalam TNI. Sesudah Rera pasukan-pasukan yang ada dihimpun menjadi Brigade IV. Batalyon Mayor Hamid Roesdi ditempatkan di Turen dengan rencana daerah operasi Malang tengah dan Malang timur. Hamid Roesdi diangkat sebagai komandan Resimen 38 (sekarang Yonif 512) pada 28 Mei 1948. Menjelang agresi militer Belanda II 1948, Hamid Roesdi membawahi Batalyon I (Malang) di bawah Mayor Sumarto, Batalyon II (Batu) di bawah Mayor Abdul Manan, Batalyon III (Pasuruan) di bawah Mayor Syamsul Islam dan Batalyon IV (Malang) di bawah M. Muchlas Rowi.
Setelah agresi militer Belanda II, maka pada akhir Desember 1948 Batalyon I Brigade IV TNI di bawah Mayor Hamid Roesdi menempati sekitar Malang Selatan. Sebelumnya Mayor Hamid Roesdi adalah Komandan Batalyon 30 menjadi Batalyon I di antara empat batalyon. Kemudian TNI menerapkan perang gerilya dengan menerapkan sistem wehrkreise. Sebagai komandan Mobil Brigade (MB) I Mayor Hamid Roesdi membawahi daerah operasi meliputi sebelah utara garis status quo sampai Pasuruan dengan memimpin distrik I Kapten Wachman, Distrik II Mayor Abdul Manan dan Distrik III Mayor Syamsul Islam. Setelah ditunjuk menjadi Komandan MG (Mobil Gerilya) I, Mayor Hamid Roesdi mendapat tambahan tugas daerah operasi SWK II (Malang barat di bawah Abdul Manan) dan SWK III (Malang Selatan di bawah Muchlas Rowi). Muncullah rencana untuk mengadakan serangan umum ke kota Malang.
Sebenarnya Mayor Hamid ROesdi berencana untuk pindah ke tempat MG I yang baru di Nongkojajar. Dalam pelaksanaanya itu, ia meyempatkan diri untuk menjenguk keluarganya yang berada di desa Sekarputih Wonokoyo. Kesempatan menengok keluarga ini dilakukan dengan melalui desa Tlogowaru pada malam hari. Rupanya pihak lawan mendapat informasi bahwa Mayor Hamid Roesdi itu bergerak ke daerah Malang Timur. Karena itu mereka mengadakan penyergapan. Tengah malam, pada 8 Maret 1949 kondisi perang sangat genting. Hamid Roesdi datang dan berpamitan pada istrinya, Siti Fatimah. Hamid Roesdi dengan 4 orang lainnya ditangkap tentara Belanda. Setibanya di tepi sungai dekat desa Wonokoyo mereka ditembak mati. Itulah pertemuan terakhir dengan istrinya dan tidak pernah kembali lagi selama-lamanya. Tanggal 8 Maret 1949 siang hari, kelima pahlawan tersebut dimakamkan di Desa Wonokoyo. [ant]

Sumber:
Biografi pahlawan Hamid Roesdi, Bintaldam V Brawijaya 1989
Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan II
TKR Divisi VII Untung Suropati Malang-Besuki 1945-1948

Pesan Tersirat :
Sumber : http://ngalam.web id
Check

Anda dapat mengirimkan foto/ Artikel tentang daerah anda kirmkan melalui email ke malangkab@mail.com

Tokoh Musik Ian Antono


Berbagi Informasi Kabupaten Malang
Ian Antono yang bernama asli Jusuf Antono Djojo (lahir di Malang, Jawa Timur, 29 Oktober 1950; umur 60 tahun) adalah seorang musisi dan pencipta lagu kelompok musik rock legendaris God Bless bersama Ahmad Albar hingga saat ini grup musik ini masih terbilang exist.
Ian anak kota malang

Awal karier
Pada awalnya, Ian Antono merupakan seorang drummer. Namun setelah mendengar musik-musik The Shadows ia mulai berminat menjadi gitaris. Ia pun akhirnya bergabung dengan band Abadi Soesman yang waktu itu namanya cukup diperhitungkan. Tahun 1970  hijrah di Jakarta dan bergabung dengan Bentoel Band inilah cikal bakal ian antono berkiprah di blantika musik rock di Indonesia.

Akhirnya tahun 1974 ia resmi menjadi gitaris God Bless dan merilis album-album seperti Huma Diatas Bukit (1975), Cermin (1980), Semut Hitam (1989). Nama Ian Antono mulai menarik perhatian karena pada saat itu atmosfer musik rock di Indonesia belum ada yang memulai. God Bless lah yang pertama kali mempelopori. Secara otomatis Ian juga menjadi gitaris pertama yang berkibar di jalur rock Indonesia.

Berkat kehebatanya bermain gitar Ian juga ikut mensukseskan album musisi-musisi lain seperti Iwan Fals,Doel Sumbang,Nicky Astria,Anggun dan lain-lain


Pesan Tersirat :

Check

Anda dapat mengirimkan foto/ Artikel tentang daerah anda kirmkan melalui email ke malangkab@mail.com

Bupati Kabupaten Malang dari Waktu ke Waktu


Berbagi Informasi Kabupaten Malang
Raden Tumenggung Notodiningrat I

1819 s/d 12-11-1839
    Raden Ario Adipati Notodiningrat II

s/d 31-7-1884
    Raden Ario Tumenggung Notodiningrat III

s/d 31-7-1884
    Raden Adipati Soerioadiningrat I (Raden Sjarip)

s/d 23-8-1934
    Raden Ario Adipati Mas

s/d 31-7-1945
    Raden Soedono

s/d 17-3-1950
    Raden Mas Tumenggung Ronggo Moestedjo (Bupati Federal)

1947 - 1950
    Haji Said Hidajat

17-3-1950 s/d 11-04-1950
    Mas Ngabehi Soentoro

01-3-1950 s/d 11-3-1958

    Mas Japan Noto Boedojo

1-7-1958 s/d 31-12-1959
1-1-1960 s/d 30-11-1964
 
R. Soendoro Hardjoamidjodjo, SH.

3-4-1958 s/d 31-12-1958
    Mas Ngabehi Soentoro

01-3-1950 s/d 11-3-1958
    Kol. Inf. H.R. Sowignyo

1-11-1969 s/d 21-11-1979
    Kol. Inf. Eddy Slamet

1-10-1985 s/d 20-10-1985
    Kol. Inf. Abdul Hamid Mahmud

22-10-1985 s/d 24-10-1995
    Kol. Inf. Muhammad Said

24-10-1995 s/d 26-10-2000

    Ir. Mochammad Ibnu Rubianto, MBA

26-10-2000 s/d 2001
   Sujud Pribadi 2001 s/d 24-10-2010
   Drs. H. Rendra Kresna, BcKU, SH, MM, MPM
24-10-2010 s/d


Pesan Tersirat :

Check

Anda dapat mengirimkan foto/ Artikel tentang daerah anda kirmkan melalui email ke malangkab@mail.com

Top
Submit Express Local SEO